
| Category: | Books |
| Genre: | Biographies & Memoirs |
| Author: | Andrea Hirata |
Waktu pertama kali gue liat deretan tetralogi Laskar Pelangi di etalase sebuah toko buku jalan merdeka, pertamanya gue cuma ngangkat alis sebelah.
Pikiran gue, oh, tipe"buku kayak gitu lagi. Lagipula, siapa pula tuh Andrea Hirata?
Karena sejak awal udah sarkasme, gue pun urung beli. Sampai besok"nya, seorang temen sekelas gue bawa buku "Laskar Pelangi" ke kelas. Gue pun tertarik baca dan minjem.
Ternyata, oh my God. Bab pertama dan keduanya aja, udah bisa bikin emosi pembacanya naik-turun seiring alur cerita.
Gue kagum sama pandangan tokoh" di dalam buku itu, terutama tentang cara mereka untuk bisa tertawa dalam situasi kehidupan yang...ngebayanginnya pun gue nggak pernah.
Tapi tentu aja, maksud Andrea mengangkat cerita kayak gitu tuh, bukan buat memulung rasa simpati, apalagi kasihan.
Tapi buat ngasih inspirasi dan memompa semangat seakan" meneriakkan "mereka aja yang dalam keadaan segala minus, bisa. masa kamu nggak?" ke kuping kita keras".
I can say that I'm extremely proud for knowing this tetralogy is written by an Indonesian.
Yakk, cukup curhatnya.
Kalau Laskar Pelangi berlatar waktu Ikal dan kawan"nya masih SD dan SMP, Sang Pemimpi berkisah tentang kehidupan SMA dua orang tokoh utamanya, Ikal dan Arai. Tak lupa juga tentang Jimbron, seorang sahabat yang selalu mengikuti ke mana Ikal dan Arai pergi.
Sebagaimana halnya kehidupan mereka dari kecil, memperoleh pendidikan SMA pun harus dilalui Ikal, Arai, dan Jimbron dengan penuh perjuangan. Mulai dari bangun pukul 02.00 dini hari lalu bekerja sebagai kuli ngambat, dan setelah membersihkan diri sekenanya, langsung berjalan kaki berkilo-kilo jauhnya ke SMA Bukan Main, satu-satunya SMA yang ada di daerah Belitong.
3 tahun di SMA dilewati oleh Ikal dan Arai dengan banyak cerita: Jimbron yang obsesif-kompulsif sama kuda, kebanggan ayah Ikal (yang merupakan ayah asuh Arai juga) karena kedua anaknya selalu menjadi anggota garda depan (10 orang peringkat teratas se-SMA Bukan Main) setiap pembagian rapot yang hanya diungkapkannya dengan senyum dan tepukan di pundak Ikal dan Arai, pekerjaan sebagai kuli ngambat yang membuat keduanya selalu berbau ikan pari, sikap Arai yang tak pernah pesimis dan selalu menjadi inspirasi bagi Ikal, budaya dan adat kebiasaan di Kampung Belitong yang 'Melayu-banget' serta religius, pengalaman Arai-Ikal-Jimbron menyamar pake sarung demi nonton film bokep pertama mereka (di umur 18 tahun) terus ketahuan sama wakil kepsek SMA Bukan Main yang galaknya bener" bukan main, dan lain-lain.
Juga masalah cinta pertama Arai: Zakiah Nurmala, yang membuatnya pusing tujuh keliling. Belum lagi usaha" Jimbron untuk membuat Laskmi, cewek yang selalu bermuka masam sejak seluruh keluarganya meninggal, tersenyum lagi.
Nyatanya, semua mozaik"kecil itu jualah yang membuat Ikal dan Arai berani bermimpi untuk bisa menginjakkan kaki di Universitas Sourbonne Paris, keliling Eropa, dan menjelajahi Rusia dan Afrika sampai ke kampung" pelosoknya.
Benar" sebuah mimpi memang. Siapa sih yang pernah berkhayal seorang kuli ngambat di desa terpelosok pedalaman Sumatera bisa ngelakuin semua itu?
Ada sebuah quote dari Arai yang 'ngena' banget ketika Ikal mulai pesimis memikirkan impian"nya sehingga peringkat Ikal akhirnya merosot dari garda depan menjadi nomor 75.
Quote itu adalah: "Biar kau tahu, Kal, orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu! Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati...."
"...kita tak akan pernah mendahului nasib kita!!"
"Mendahului nasib! Pesimistis tak lebih dari sikap takabur mendahului nasib."
Ada yang ngerasa kesepet gag? Soalnya gue iya. Hehe.
